Minggu, 21 April 2013

MAKNA LAMBANG KEPAUSAN


Lambang atau logo dibuat untuk mengungkapkan sesuatu yang lebih besar / banyak, dengan tanda yang sedikit, kecil, mudah diingat, dan tentu indah. Begitu juga dengan lambang kepausan. Ada 2 lambang resmi kepausan, yakni: Lambang Vatican sebagai negara dan Lambang Pribadi Paus yang sedang bertahta.


Lambang Vatican / Tahta Suci

 Lambang resmi Vatikan berbentuk perisai merah yang di dalamnya terdiri dari gambar tiara (mahkota susun 3), dua kunci warna emas dan perak bersilang / diikat singel.

TIARA (Triregnum) yakni gambar mahkota bertingkat 3. Sejak 1143 – 1963, pada upacara Pemahkotaan atau Mahkota Triple itu dipasang di kepala Bapa Suci sebagai lambang kekuasaan. Tiga tingkat dalam mahkota itu melambangkan tiga kekuasaan Paus, yaitu sebagai Uskup Universal, Puncak Yurisdiksi dalam Gereja, dan Kepala Negara Kepausan. Tiara ini biasanya dikenakan ketika Paus mengeluarkan pernyataan penting dan dalam upacara meriah, seperti kanonisasi orang kudus. Paus Paulus VI adalah Paus terakhir yang mengenakan tiara itu ketika diangkat menjadi Paus (1963). Sesudah itu, Paus Paulus VI tidak pernah mengenakan lagi Tiara kepausan itu dengan mengatakan bahwa kemegahan duniawi tidak pantas bagi Paus. Maka Paus – Paus berikutnya juga tidak dimahkotai Tiara; upacara pelantikannya bukan lagi pemahkotaan namun pelantikan / inaugurasi biasa.

Meskipun tiara bertingkat tiga sudah tidak digunakan lagi sebagai lambang kekuasaan paus, namun lambang ini masih digunakan sebagai lambang resmi kepausan, misalnya: dalam dokumen-dokumen resmi, bangunan-bangunan kepausan, lambang Tahta Suci dan bendera negara Kota Vatikan. Paus Yoh. Paulus II secara resmi memberikan izin untuk menggambarkan lambang kepausan tanpa tiara kepausan. Sebagai gantinya dipakailah gambar “Mitra”. Hal ini tampak dalam lambang pribadi Paus Benediktus XVI dan Fransiskus,

    SALIB EMAS pada puncak Tiara melambangkan salib Yesus Kristus.
KUNCI dua kunci berwarna emas dan perak, yang diikat bersilang dengan tali singel melambangkan kunci Kerajaan Surga yang dijanjikan Yesus kepada St. Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepas di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:18-19)

Lambang Pribadi Paus Fransiskus

Paus Fransiskus tetap mempertahankan perisai lambangnya saat menjadi Kardinal dan Uskup Agung Buenos Aires, Argentina.
(1) Emblem Serikat Yesus (Yesuit), ordo / serikat Paus Fransiskus adalah gambar sebuah matahari bersinar dengan huruf “IHS”, yaitu monogram dari nama Yesus Kristus. Sebuah salib diletakkan di atas huruf H dari monogram tersebut sementara tiga paku suci diletakkan di bawah monogram tersebut.
Di bagian kiri bawah perisai terdapat gambar sebuah bintang yang berdasarkan tradisi menyimbolkan SP Maria, Bunda Yesus Kristus dan bunda gereja. Di sisi kanan bawah perisai terdapat gambar spikenard (tanaman seperti anggur), tanaman aromatik yang menyimbolkan St. Yosef, pelindung Gereja Universal. Dalam tradisi ikonografi Spanyol, St. Josef memang digambarkan memegang sebuah cabang spikenard di tangannya. Dua simbol ini menunjukkan devosi pribadi Paus Fransiskus St. Maria dan St. Yosef.

(2) Motto Bapa Suci “MISERADO ATQUE ELIGENDO”, (karena Ia melihatnya melalui mata kerahiman dan memilihnya) diambil dari homili St. Beda mengenai Yesus memanggil St. Matius penulis injil. Hal ini menyangkut pengalaman spiritual pribadi Paus Fransiskus ketika usia 17 tahun dimana ia mengalami secara khusus kehadiran Allah yang maha kasih dalam hidupnya. Setelah pengakuan dosa, hatinya tersentuh oleh pancara kerahiman Allah yang dengan cinta yang lembut memanggilnya ke dalam hidup religius mengikuti teladan St. Ignasius dari Loyola. Setelah terpilih menjadi uskup, untuk mengenang peristiwa yang mengawali penyerahan total dirinya kepada Allah di dalam Gereja itu memutuskan untuk memilih frase homili St. Beda itu sebagai motto dan program hidupnya. Begitu juga setelah terpilih sebagai paus, ia minta agar motto itu dituliskan kembali dalam perisai lambang kepausannya.

(3) Pallium, yakni kain putih yang melingkar di leher dan menjulur kebawah seperti dasi yang dihiasi dengan salib-salib. Kain putih ini terbuat dari kain wol dengan sulaman enam salib hitam. Dulu pallium diberikan kepada paus baru pada saat diresmikan sebagai Uskup Roma sebagai lambang wewenang rohani. Sejak abad VIII, pallium juga diberikan Paus kepada para batrik dan uskup agung sebagai tanda kesatuan dengan Bapa Suci.

source: GEMPAR St. Yoseph Palembang 21 April 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar